Sabtu, 27 April 2013

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA INDONESIA

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA INDONESIA (SENI MUSIK) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS : X KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1 Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap seni pertunjukan non tradisional sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 2.1 Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab , disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2 Menunjukkan sikap santun jujur , cinta damai,dalam mengapresiasi seni dan pembuatnya 2.3 Menunjukkan sikap responsif, proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 3.1 Mengidentifikasi musik non tradisional berdasarkan jenis dan fungsinya, 3.2 Mengidentifikasi musik non tradisional dengan simbol, dan nilai estetisnya 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Menampilkan musik non tradisional berdasarkan jenis dan fungsinya 4.2 Menampilkan musik non tradisional dengan membaca partitur 4.3 Menampilkan musik non tradisional dengan partitur lagu karya sendiri 4.4 Mempergelarkan musik non tradisional dengan memperhatikan nilai-nilai estetis KELAS XI KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1 Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni pertunjukan tradisional sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 2.1 Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab, disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2 Menunjukkan sikap santun jujur , cinta damai dalam mengapresiai seni dan pembuatnya 2.3 Menunjukkan sikap responsif dan proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 3.1 Mengidentifikasi musik tardisional berdasarkan jenis dan fungsinya, 3.2 Mengidentifikasi musik tardisional berdasarkan makna , simbol, dan nilai estetis 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Memilih dan menampilkan musik tardisional berdasarkan jenis dan fungsinya 4.2 Menampilkan musik tradisional dengan membaca partitur lagunya 4.3 Menampilkan musik tardisional dengan partitur lagu karya sendiri 4.4 Mempergelarkan musik tardisional dengan memperhatikan nilai-nilai estetis KELAS : XII KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1 Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni pertunjukan kreasi sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif), menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa, serta memosisikan diri sebagai agen transformasi masyarakat dalam membangun peradaban bangsa dan dunia. 2.1 Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab , disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2 Menunjukkan sikap santun, jujur , cinta damai terhadap seni dan pembuatnya 2.3 Menunjukkan sikap responsif dan proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untukmemecahkan masalah. 3.1 Mengidentifikasi musik kreasi berdasarkan jenis dan fungsinya, 3.2 Mengidentifikasi musik kreasi berdasarkan makna , simbol, dan nilai estetis 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Memilih dan menampilkan musik kreasi berdasarkan jenis dan fungsinya 4.2 Menampilkan musik kreasi dengan membaca partitur lagunya 4.3 Menampilkan musik kreasi dengan partitur lagu karya sendiri 4.4 Mempergelarkan musik kreasi dengan memperhatikan nilai-nilai estetis KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA INDONESIA (SENI RUPA) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS X KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1 Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni rupa modern sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 2.1 Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab , disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2 Menunjukkan sikap santun jujur , cinta damai,dalam mengapresiasi seni dan pembuatnya 2.3 Menunjukkan sikap responsif, proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 3.1 Menganalisis struktur, jenis dan fungsi karya seni rupa 3.2 Menganalisis simbol,makna dan nilai estetis karya seni rupa 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Merancang dan membuat karya lukis dengan beragam media dan teknik 4.2 Merancang dan membuat karya patung dengan beragam media dan teknik 4.3 Merancang dan membuat karya grafis dengan beragam media dan teknik 4.4 Mempresentasikan karya seni melalui kegiatan pameran   KELAS XI KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1 Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni rupa tradisional sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 2.1 Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab, disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2 Menunjukkan sikap santun jujur , cinta damai dalam mengapresiai seni dan pembuatnya 2.3 Menunjukkan sikap responsif dan proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 3.1 Menganalisis keragaman jenis, struktur, fungsi, simbol dan makna karya seni kriya 3.2 Menganalisis keunikan jenis, struktur, fungsi, simbol, makna dan proses karya seni kriya 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Merancang dan membuat kriya tekstil mengacu kepada kearifan lokal dan industri kreatif 4.2 Merancang dan membuat kriya keramik mengacu kepada kearifan lokal dan industri kreatif 4.3 Merancang dan membuat kriya limbah mengacu kepada kearifan lokal dan industri kreatif 4.4 Merancang dan mempresentasikan karya seni kriya KELAS XII KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1 Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni rupa postmodern sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif), menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa, serta memosisikan diri sebagai agen transformasi masyarakat dalam membangun peradaban bangsa dan dunia. 2.1. Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab , disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2. Menunjukkan sikap santun, jujur , cinta damai terhadap seni dan pembuatnya 2.3. Menunjukkan sikap responsif dan proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untukmemecahkan masalah. 3.1 Menganalisis struktur, fungsi, simbol,dan makna disain komunikasi visual, desain produk dan desain tekstil 3.2 Membandingkan struktur, fungsi, simbol,dan makna disain komunikasi visual, desain produk dan desain tekstil 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Merancang dan membuat karya disain komunikasi visual 4.2 Merancang dan membuat karya disain produk 4.3 Merancang dan membuat karya disain tekstil 4.4 Merancang dan mempresentasikan karya disain   KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA INDONESIA (SENI TARI) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS X KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1 Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni pertunjukan non tradisional sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 2.1 Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab , disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2 Menunjukkan sikap santun jujur , cinta damai,dalam mengapresiasi seni dan pembuatnya 2.3 Menunjukkan sikap responsif, proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 3.1 Menganalisis tari non tradisional berdasarkan jenis dan fungsi 3.2 Membedakan gerak tari non tradisional berdasarkan makna simbol, dan nilai estetis 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Melakukan gerak tari non tradisional berdasarkan fungsi sesuai iringan 4.2 Melakukan tari non tradisional dengan memperhatikan makna simbol gerak sesuai iringan 4.3 Memperagakan tari non tradisional yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis sesuai iringan 4.4 Mempergelarkan tari non tradisional yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis sesuai iringan   KELAS XI KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1 Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni pertunjukan tradisional sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 2.1 Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab, disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2 Menunjukkan sikap santun jujur , cinta damai dalam mengapresiai seni dan pembuatnya 2.3 Menunjukkan sikap responsif dan proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 3.1 Menganalisis tari tradisional berdasarkan fungsI 3.2 Membedakan gerak tari tradisional berdasarkan makna, simbol, dan nilai estetis 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Melakukan gerak tari tradisional berdasarkan fungsi sesuai iringan 4.2 Melakukan tari tradisional dengan memperhatikan makna simbol gerak sesuai iringan 4.3 Memperagakan bentuk gerak tari tradisional yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis sesuai iringan 4.4 Mempergelarkan tari tradisional yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis sesuai iringan KELAS XII KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1. Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni pertunjukan kreasi sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif), menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa, serta memosisikan diri sebagai agen transformasi masyarakat dalam membangun peradaban bangsa dan dunia. 2.1. Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab , disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2. Menunjukkan sikap santun, jujur , cinta damai terhadap seni dan pembuatnya 2.3. Menunjukkan sikap responsif dan proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untukmemecahkan masalah. 3.3 Menganalisis tari kreasi berdasarkan fungsi 3.4 Membedakan gerak tari kreasi berdasarkan makna, simbol, dan nilai estetis 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Melakukan gerak tari kreasi berdasarkan fungsi sesuai iringan 4.2 Melakukan tari kreasi dengan memperhatikan makna simbol gerak sesuai iringan 4.3 Memperagakan bentuk gerak tari kreasi yang memilik fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis sesuai iringan 4.4 Mempergelarkan tari kreasi yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis sesuai iringan   KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA (TEATER) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)/MADRASAH ALIYAH (MA) KELAS X KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1. Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni pertunjukan non tradisional sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 2.1. Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab , disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2. Menunjukkan sikap santun jujur , cinta damai,dalam mengapresiasi seni dan pembuatnya 2.3. Menunjukkan sikap responsif, proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 3.1 Mengklasifikasi teater non tradisional berdasarkan jenis dan fungsi. 3.2 Mengidentifikasi teater non tradisional berdasarkan makna simbol, dan nilai estetis. 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Memperagakan bentuk peran teater non tradisional yang memiliki fungsi, 4.2 Mengolah peran dengan karakter tokoh-tokoh dalam teater non tradisional yang memiliki makna,simbol,dan nilai estetis 4.3 Mempersiapkan pergelaran teater non tradisional 4.4 Mempergelarkan teater non tradisional yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis   KELAS XI KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1. Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni pertunjukan tradisional sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 2.1. Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab, disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2 Menunjukkan sikap santun jujur , cinta damai dalam mengapresiai seni dan pembuatnya 2.3 Menunjukkan sikap responsif dan proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 3.1. Mengklasifikasi teater tradisional berdasarkan jenis dan fungsinya 3.2. Mengidentifikasi teater tradisional berdasarkan makna, simbol, dan nilai estetis 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 4.1 Memperagakan bentuk peran teater tradisional yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis 4.2 Mengolah peran dengan karakter tokoh-tokoh dalam teater tradisional yang memiliki makna,simbol,dan nilai estetis 4.3 Mempersiapkan pergelaran teater tradisional 4.4 Mempergelarkan teater tradisional yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis KELAS XII KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 1.1. Menunjukkan sikap penghayatan dan pengamalan serta bangga terhadap karya seni pertunjukan teater kreasi sebagai bentuk rasa syukur terhadap anugerah Tuhan 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif), menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa, serta memosisikan diri sebagai agen transformasi masyarakat dalam membangun peradaban bangsa dan dunia. 2.1. Menunjukkan sikap kerjasama, bertanggung jawab , disiplin melalui aktivitas berkesenian 2.2. Menunjukkan sikap santun, jujur , cinta damai terhadap seni dan pembuatnya 2.3. Menunjukkan sikap responsif dan proaktif, peduli terhadap lingkungan dan sesama,menghargai karya seni dan pembuatnya 3. Memahami, menerapkan, dan menjelaskan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalamilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untukmemecahkan masalah. 3.1 Mengklasifikasi teater kreasi berdasarkan jenis dan fungsi, 3.2 Mengidentifikasi teater kreasi berdasarkan makna, simbol, dan nilai estetis. 4. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 3.1 Memperagakan bentuk teater kreasi yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis 3.2 Mengolah peran karakter tokoh- tokoh dalam teater kreasi 3.3 Mempersiapkan proses pertunjukan teater kreasi. 3.4 Mempergelarkan teater kreasi yang memiliki fungsi, makna,simbol, dan nilai estetis

Senin, 25 Oktober 2010

Karya saya waktu mahasiswa (1986).

"Pak Harto" (1986)
Media oil on canvas (70x100)
Lukisan ini sekarang di Banyuwangi.
Tahun 1986 Pak Harto sangat berkuasa
dan sangat dihormati.
Ukir Kiri: Judul "Penari" Kanan "Allah SWT"
Media kayu jati (5x40x50)
Mungkin sekarang ukir kiri berada di Jerman.
Karena waktu itu dibeli oleh Direktur Goethe Institut Surabaya
tahun 1986, waktu pameran di sana.

Judul : "Merokok" (1986)
Media : oil on canvas (70x100)
Lukisan ini hilang waktu pameran di Taman Budaya
tahun 1994-an. Semoga yang menemukan/mengambil
diberikan barokah oleh Allah SWT. terhadap lukisan ini.
Dan diampuni dosa-dosanya. Amin.


Judul: " Sembodro" (1986)
Media: oil on canvas (70x100)
Lukisan ini sekarang di Madura, diberikan temannya
ibu saya sebagai kenang-kenangan.


Judul: "Orang Bromo" (1986)
Media: Oil on canvas (70x100)
Lukisan inilah satu-satunya yang tersisa
dan terpajang di ruang guru
SMA Negeri 2 Surabaya.

Judul: " Membajak Sawah " (1986)
Media oil on canvas (70x100)
Lukisan ini sekarang posisi di Ketintang Surabaya.
Saya berikan sebagai kenang-kenangan kepada
orang yang pernah membantu saya thn 1983.

Minggu, 24 Oktober 2010

Materi Lokakarya Batik Guru-2 se Jatim 2010

Fenomena Batik Indonesia Saat Ini
( Drs. Bambang Sutego, MM. SMAN 2 Surabaya )


A.     Pengertian Batik :

Batik berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "titik". Kata batik merujuk pada teknik pembuatan corak menggunakan canting atau cap dan pencelupan kain, dengan menggunakan bahan perintang warna corak, bernama "malam" (lilin) yang diaplikasikan di atas kain. Sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris, teknik ini dikenal dengan istilah “wax-resist dyeing”. Jadi, kain batik adalah kain yang memiliki ragam hias (corak) yang diproses dengan “malam” menggunakan canting atau cap sebagai media menggambarnya.
Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami, seperti katun, sutra, wol. Dan tidak bisa diterapkan di atas kain polyester (serat buatan). Sementara kain yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik perintang warna dikenal sebagai kain bermotif batik. Biasanya kain-kain seperti ini dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (print). Karena itu tidak bisa disebut kain batik.

B.     Sejarah Seni Batik Indonesia :
Gambar 1: Dahulu batik hanya dipergunakan sebagai busana di lingkungan keraton.

Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Dari zaman kerajaan Mataram Hindu sampai masuknya agama demi agama ke Pulau Jawa, sejak datangnya para pedagang India, Cina, Arab, yang kemudian disusul oleh para pedagang dari Eropa, sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dalam perjalanananannya memunculkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, batik telah hadir dengan corak dan warna yang dapat menggambarkan zaman dan lingkungan yang melahirkan.
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motik abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari pohon mengkudu, tinggi, soga, nila dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Kerajinan Batik ini, di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke XVIII atau awal abad ke XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke XX. Dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920.
Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.
Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

  1. Sejarah Motif Batik Keraton
Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelusuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti "pereng" atau tebing berbaris.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman (pakaian) Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana. Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain : Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat lar, Udan liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.
Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik. Kalaupun batik di keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Kraton Yogyakarta.
Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan atara pola batik Keraton Kasultanan Yogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.
Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman yakni Pola Candi Baruna yang terkenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal antara lain Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barang Bintang Leider dan sebagainya.

  1. Jaman Majapahit
Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.
Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.
Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.
Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.
Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.
Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit namun perkembangan batik mulai menyebar dengan pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.
Didalam berkecamuknya clash antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kyai yang statusnya turun-temurun. Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro itu.
Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga didaerah desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tesebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

  1. Jaman Penyebaran Islam
Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Riwayat Batik disebutkan masalah seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah mesjid di daerah Patihan Wetan.
Perkembangan selanjutanya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari di bidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.
Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. disamping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar dipesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masyarakat akan menyumbangkan dharma baktinya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.
Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain; pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import baru dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.
Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia petama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia.

  1. Batik Solo dan Yogyakarta
Dari kerajaan-kerajaan di Solo dan Yogyakarta sekitamya abad 17,18 dan 19, batik kemudian berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun perkembangan selanjutnya, oleh masyarakat batik dikembangkan menjadi komoditi perdagangan.
Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”.
Sedangkan asal-usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah di desa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga kraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombonasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton.
Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja maupun antara penjajahan Belanda dahulu, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Meluasnya daerah pembatikan ini sampai ke daerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.
Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.
Ke Timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon.

  1. Perkembangan Batik di Kota-kota lain
Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegero setelah selesainya peperangan tahun 1830, mereka kebanyakan menetap di daerah Banyumas. Pengikutnya yang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah yang mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewama dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning.
Lama kelamaan pembatikan menjalar pada rakyat Sokaraja dan pada akhir abad ke-XIX berhubungan langsung dengan pembatik didaerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di Banyumas sudah dikenal sejak dahulu dengan motif dan wama khususnya dan sekarang dinamakan batik Banyumas. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh Cina disamping mereka dagang bahan batik. .
Sama halnya dengan pembatikan di Pekalongan. Para pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di daerah ini kemudian mengembangkan usaha batik di sekitar daerah pantai ini, yaitu selain di daerah Pekalongan sendiri, batik tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-XIX. Perkembangan pembatikan di daerah-daerah luar selain dari Yogyakarta dan Solo erat hubungannya dengan perkembangan sejarah kerajaan Yogya dan Solo.
Meluasnya pembatikan keluar dari kraton setelah berakhirnya perang Diponegoro dan banyaknya keluarga kraton yang pindah kedaerah-daerah luar Yogya dan Solo karena tidak mau kerjasama dengan pemerintah kolonial. Keluarga kraton itu membawa pengikut-pengikutnya ke daerah baru itu dan ditempat itu kerajinan batik terus dilanjutkan dan kemudian menjadi pekerjaan untuk pencaharian.
Corak batik di daerah baru ini disesuaikan pula dengan keadaan daerah sekitarnya. Pekalongan khususnya dilihat dari proses dan desainnya banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Sampai awal abad ke-XX proses pembatikan yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian import. Setelah perang dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik cap dan pemakaian obat-obat luar negeri buatan Jerman dan Inggris.
Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekajangan ialah pertenunan yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan yang dikerjakan oleh orang-orang yang bekerja disektor pertenunan ini. Pertumbuhan dan perkembangan pembatikan lebih pesat dari pertenunan stagen dan pernah buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto lari ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula.
Sedang pembatikan dikenal di Tegal akhir abad ke-XIX dan bahwa yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan: pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat menjadi warna merah-biru. Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah antara lain Jawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha-pengusaha secara jalan kaki dan mereka inilah menurut sejarah yang mengembangkan batik di Tasik dan Ciamis disamping pendatang-pendatang lainnya dari kota-kota batik Jawa Tengah.
Pada awal abad ke-XX sudah dikenal mori import dan obat-obat import baru dikenal sesudah perang dunia kesatu. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal kebanyakan lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknya dijual pada Cina yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatik-pembatik Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan perang dunia kedua. Waktu Jepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi.
Demikian pila sejarah pembatikan di Purworejo bersamaan adanya dengan pembatikan di Kebumen yaitu berasal dari Yogyakarta sekitar abad ke-XI. Pekembangan kerajinan batik di Purworejo dibandingkan dengan di Kebumen lebih cepat di Kebumen. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya.
Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen-Klaten yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Daerah Bayat ini adalah desa yang terletak dikaki gunung tetapi tanahnya gersang dan minus. Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwayat pembatikan disini sudah pasti erat hubungannya dengan sejarah kerajaan kraton Surakarta masa dahulu. Desa Bayat ini sekarang ada pertilasan yang dapat dikunjungi oleh penduduknya dalam waktu-waktu tertentu yaitu “makam Sunan Bayat” di atas gunung Jabarkat. Jadi pembatikan didesa Bayat ini sudah ada sejak zaman kerjaan dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo.
Sementara pembatikan di Kebumen dikenal sekitar awal abad ke-XIX yang dibawa oleh pendatang-pendatang dari Yogya dalam rangka dakwah Islam antara lain yang dikenal ialah: PenghuluNusjaf. Beliau inilah yang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah Timur Kali Lukolo sekarang dan juga ada peninggalan masjid atas usaha beliau. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan teng-abang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-XX untuk membuat polanya dipergunakan kunir yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah: pohon-pohon, burung-burungan. Bahan-bahan lainnya yang dipergunakan ialah pohon pace, kemudu dan nila tom.
Pemakaian obat-obat import di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia yang akhimya meninggalkan bahan-bahan bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah didesa: Watugarut, Tanurekso yang dan ada beberapa desa lainnya.
Dilihat dengan peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita yang turun-temurun dari terdahulu, maka diperkirakan di daerah Tasikmalaya batik dikenal sejak zaman “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum didapat disana yang berguna un-tuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan dikerjakan ialah: Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota.
Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Kira-kira akhir abad ke-XVII dan awal abad ke-XVIII akibat dari peperangan antara kerajaan di Jawa Tengah, maka banyak dari penduduk daerah: Tegal, Pekalongan, Banyumas dan Kudus yang merantau ke daerah Barat dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya. Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha-pengusaha batik daerahnya dan menuju kearah Barat sambil berdagang batik. Dengan datangnya penduduk baru ini, dikenallah selanjutnya pembutan batik memakai soga yang asalnya dari Jawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna.
Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-XIX setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap di daerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Mereka ini merantau dengan keluarganya ditempat baru dan menetap menjadi penduduk lalu melanjutkan tata cara hidup dan pekerjaannya. Sebagian dari mereka ada yang ahli dalam pembatikan sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnya akibat adanya pergaulan sehari-hari atau hubungan keluarga. Bahan-bahan yang dipakai untuk kainnya hasil tenunan sendiri dan bahan catnya dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainya.
Motif batik hasil Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal-awal abad ke-XX pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada di daerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuahn dan Keprabonan. Sumber utama batik Cirebon, kasusnya sama seperti yang di Yogyakarta dan Solo. Batik muncul lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi dalem yang bertempat tinggal di luar kraton.
Raja-raja jaman dulu senang dengan lukisan-lukisan dan sebelum dikenal benang katun, lukisan itu ditempatkan pada daun lontar. Hal itu terjadi sekitar abad ke-XIII. Ini ada kaitannya dengan corak-corak batik di atas tenunan. Ciri khas batik Cirebonan sebagaian besar bermotifkan gambar yang lambang hutan dan margasatwa. Sedangkan adanya motif laut karena dipengaruhi oleh alam pemikiran Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Sementra batik Cirebonan yang bergambar garuda karena dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo.

  1. Pembatikan di Luar Jawa
Dari Jakarta, yang menjadi tujuan pedagang-pedagang di luar Jawa, maka batik kemudian berkembang di seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang, adalah daerah yang jauh dari pusat pembatikan di kota-kota Jawa, tetapi pembatikan bisa berkembang di daerah ini.
Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang, dimana sejak putusnya hubungan antara Sumatera dengan Jawa waktu pendudukan Jepang, maka persediaan-persediaan batik yang ada pada pedagang-pedagang batik sudah habis dan konsumen perlu batik untuk pakaian sehari-hari mereka. Ditambah lagi setelah kemerdekaan Indonesia, dimana hubungan antara kedua pulau bertambah sukar, akibat blokade-blokade Belanda, maka pedagang-pedagang batik yang biasa hubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri.
Dengan hasil karya sendiri dan penelitian yang seksama, dari batik-batik yang dibuat di Jawa, maka ditirulah pembuatan pola-polanya dan ditrapkan pada kayu sebagai alat cap. Obat-obat batik yang dipakai juga hasil buatan sendiri yaitu dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan.
Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh tahun 1948 Sdr. Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Setelah daerah Padang serta kota-kota lainnya menjadi daerah pendudukan tahun 1949, banyak pedagang-pedagang batik membuka perusahaan-perusahaan/bengkel batik dengan bahannya didapat dari Singapore melalui pelabuhan Padang dan Pakanbaru. Tetapi pedagang-pedagang batik ini setelah ada hubungan terbuka dengan pulau Jawa, kembali berdagang dan perusahaanny a mati.
Warna batik dari Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayuan, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang lebih maju lagi tetapi tetap masih jauh dari produksi-produksi di pulau Jawa ini. Alat untuk cap sekarang telah dibuat dari tembaga dan produksinya kebanyakan sarung.

C.     Batik, Menuju Pengakuan Dunia :

Pada 2 Oktober United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization atau UNESCO mengumumkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia tak benda (intangible cultural heritage/ICH). Kabar itu disambut gembira, antara lain oleh organisasi pencinta kain adati Wastraprema.
Situs UNESCO (unesco.org) menyebutkan, Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage  bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 28 September-2 Oktober, untuk menentukan ICH.

Gambar 2: Menteri Luar Negeri, Menko Kesra, Menbudpar, dll, berekspresi dengan wayang kulit
setelah tercatat sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco.

Batik Indonesia termasuk yang didaftarkan untuk mendapat status ICH melalui kantor UNESCO di Jakarta oleh kantor Menko Kesejahteraan Rakyat mewakili pemerintah dan komunitas batik Indonesia, pada 4 September 2008. Batik menjadi warisan ketiga Indonesia yang terdaftar dalam Intangible Heritage of Humanity UNESCO, setelah wayang dan keris. Batik sebagai teknik merintang warna bukan khas Indonesia. Maestro batik Iwan Tirta dalam bukunya, Batik, A Play of Light and Shades (Gaya Favorit Press, 1996), menyebutkan, batik boleh jadi berkembang bersamaan di beberapa tempat di dunia.
Batik di Jawa menjadi sangat halus karena coraknya berkembang luas, metode pewarnaan sangat maju, dan ada penyempurnaan teknik. Canting yang memungkinkan pembuatan motif, misalnya, sangat halus berkembang di Jawa. Termasuk teknik pewarnaannya. Cikal bakal batik bentuknya lebih sederhana. Kain simbut dari Banten adalah salah satu batik paling awal, menggunakan bubur nasi sebagai perintang warna (Iwan Tirta, Batik, A Play of Light and Shades). Kain ma'a dari Toraja di Sulawesi Tengah juga memakai bubur nasi. Karena Toraja terisolasi di pegunungan, para ahli menduga kemungkinan besar batik itu asli dari sana, tidak dipengaruhi India. Hal ini memunculkan teori boleh jadi Indonesia juga melahirkan batik pertama.
Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO 2003 mendefinisikan ICH sebagai praktik, representasi, ekspresi, serta pengetahuan dan keterampilan yang oleh komunitas, kelompok, dan dalam beberapa kasus juga individu mengakui sebagai bagian warisan budaya mereka. ICH adalah tradisional dan masih dipraktikkan, terus dikreasikan, dan diturunkan ke generasi berikut, umumnya secara lisan. Iwan Tirta menyebut, pada akhir abad ke-19 seorang akademisi, Rouffaer, melaporkan motif batik sehalus gringsing sudah diproduksi pada abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Corak seperti sisik ikan adalah salah satu motif tersulit dan dia menyimpulkan, besar kemungkinan motif itu dibuat memakai canting. Dalam perkembangannya batik memiliki keterkaitan kuat dengan seni wayang, tari, dan lagu.
Karena itu ragam hias batik Indonesia memiliki ciri yang terkait dengan komunitas pembuatnya, sebagian menggambarkan suasana zaman, merekam alam sekitar, dan diproduksi untuk keperluan komersial, tetapi sebagian yang lain memenuhi kebutuhan adat dan tradisi. Pengakuan UNESCO akan membawa tanggung jawab kepada pemerintah dan komunitas untuk sungguh memerhatikan batik, termasuk pewarisan kepada generasi baru, memastikan dipenuhinya hak pembatik, dan pembuatannya tak merusak lingkungan, seperti disyaratkan Konvensi.

  1. Empat Sertifikat UNESCO Bukti Pengakuan Dunia
Menlu RI Dr. R.M. Marty Natalegawa menyerahkan 4 (empat) sertifikat UNESCO kepada Menko Kesra di Kantor Menko Kesra. Sertifikat tersebut adalah: 1). the Wayang puppet theatre, 2). the Indonesian Kris, 3). Indonesian Batik dan 4). Education and training in Indonesian Batik intangible cultural heritage for elementary, junior, senior, vocational school and polytechnic students, in collaboration with the Batik Museum in Pekalongan.

Gambar 3: Wayang kulit, keris dan batik tercatat di Unesco sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia.
Penyampaian keempat sertifikat tersebut merupakan bentuk pengakuan UNESCO melalui programnya di bawah Konvensi 2003 tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda (Convention on the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage). Konvensi ini memberikan pengakuan kepada budaya hidup berupa: budaya lisan, seni pentas, adat istiadat dan perayaan, pengetahuan tentang alam dan semesta, dan kerajinan tradisional.
Pengakuan dunia tersebut direpresentasikan oleh UNESCO, selaku organisasi tertinggi dunia di bidang kebudayaan di bawah naungan PBB. Pengakuan ini tentu saja sebagai suatu keberhasilan bangsa Indonesia dalam memenuhi persyaratan wajib pada proses nominasi dari warisan budaya tersebut. Satu lagi yang membanggakan, selain ketiga sertifikat tersebut, adalah sertifikat untuk Best Practice Diklat Warisan Batik Indonesia. Ini suatu penghargaan atas kompetensi dan kesungguhan komunitas batik Indonesia dalam memelihara kelestarian batik warisan budaya bangsa Indonesia, melalui pendidikan dan latihan kepada siswa-siswa sekolah.
Penghargaan Best Practice yang diikuti bantuan program atau proyek elaborasi dari UNESCO berupa penyusunan buku, pembuatan Film dan bahan pameran untuk road show promosi keliling dunia oleh UNESCO adalah peluang yang sangat bagus untuk mempromosikan Batik Indonesia ke seluruh dunia. Dalam konteks ”Best Practice” ini, nampak adanya potensi besar untuk mengharumkan nama Indonesia. Walaupun nilai proyeknya tidak seberapa besar akan tetapi aspek promosi dari hasil proyek tersebut akan sangat luar biasa besar apabila kita mampu menggarapnya dengan baik.
Sertifikat UNESCO tersebut masuk dalam kelompok budaya tak benda, yang mengacu pada Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda tahun 2003 (Convention on the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage). Konvensi ini memberikan pengakuan kepada budaya tak benda seperti budaya lisan; seni pentas; adat istiadat dan perayaan; pengetahuan tentang alam dan semesta; kerajinan tradisional. Keuntungan bagi Indonesia dengan dimasukkannya mata budaya Indonesia kedalam daftar representatif, katanya tidak semata-mata untuk mendapatkan bantuan teknis dan dana dari UNESCO untuk kepentingan konservasi, namun justru yang lebih penting adalah pengakuan dunia terhadap eksistensi seni budaya dan kekayaan alam Indonesia yang menjadi identitas jati diri bangsa.
Dalam kerangka pikir ini, dengan kekayaan budaya bangsa, khususnya budaya tak benda yang begitu banyak, semua pihak ingin bersama-sama berjuang mengusulkan mata budaya-mata budaya lain agar masuk dalam representasi listnya UNESCO.
Pengakuan UNESCO ini diperoleh setelah memenuhi berbagai kriteria yang tidak mudah. Setelah diterimanya sertifikat ini, tidak berarti tugas sudah selesai. Inskripsi UNESCO ini membawa konsekuensi bahwa pihak-pihak pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan terkait harus terus menerus secara nyata melestarikan dan mengembangkan warisan budaya takbenda, sesuai komitmen yang telah dinyatakannya dalam berkas-berkas yang diajukan kepada UNESCO, agar tetap memenuhi kriteria hingga inskripsi tersebut tidak dicabut kembali.

  1. Hari Batik Nasional
Khususnya terkait dengan Batik Indonesia, Presiden telah menetapkan tangal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Hal ini tentu harus disebarluaskan agar harapan Batik Indonesia dapat menjadi ikon nasional yang membanggakan bangsa. Di sisi lain secara ekonomi dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi rakyat karena semua rakyat Indonesia memakai pakain batik. Hal ini tentunya agar dapat memberi keuntungan bagi para pengrajin dan produsen batik.
Pemerintah mengajak semua pihak berusaha menjadikan Batik Indonesia sebagai ikon budaya Indonesia yang dikenal di seluruh dunia. Untuk mencapai itu perlu promosi secara terus menerus bentuknya antara lain para PNS dan murid-murid di sekolah pada hari-hari tertentu dalam tiap minggunya diwajibkan menggunakan seragam batik. Secara periodik tiap-tiap daerah diharapkan menyelenggarakan pagelaran budaya, pameran, workshop dan bentuk promosi lainnya. Indonesia juga akan mencalonkan untuk menjadi anggota Intangible Cultural Heritage Commitee (Komite Warisan Budaya Tak Benda UNESCO).
Sebagai salah satu kewajiban negara pihak Konvensi 2003 bangsa Indonesia juga mempunyai kewajiban untuk membuat inventory mata budaya. Untuk itu Menbudpar telah memprakarsai proyek pencatatan seluruh mata budaya takbenda yang ada di Tanah Air, dan diharapkan semua pihak akan mendukung upaya-upaya ini untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya, sebagai bagian penting jati diri dan kesejahteraan batin bangsa Indonesia.




Batik sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia, sehingga menjadi salah satu ikon atau identitas budaya Indonesia. Sekarang ini kata batik sudah banyak dikenal di luar negeri. Para turis asing maupun pejabat asing yang berkunjung atau yang tinggal di Indonesia sangat gemar akan batik dan sering membawanya pulang sebagai oleh-oleh.
Menyebut nama batik dunia tak bisa mengabaikan dengan tokoh batik Indonesia yang telah meninggal dunia, yaitu Iwan Tirta. Terlahir atas nama Nusjirwan Tirtaamidjaja di Blora, Jawa Tengah, 18 April 1935 – Iwan Tirta adalah pemikir, penghayat, perancang dan pembuat batik Indonesia, yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi batik tanah air. Ia lulusan London School of Economics dan Sekolah Hukum Yale.
Jasa besar Iwan Tirta bagi kebudayaan Tanah Air adalah prestasinya dalam menduniakan batik. Dari tangannyalah batik ditampilkan dengan warna tinta emas, sehingga lahir karya dengan Batik Prada. Dari kegigihannya pula busana batik menjadi adi busana dan karya seni, tak sebatas pakaian melainkan juga bentuk lainnya.


Gambar 4: Iwan Tirta, seorang perancang batik Indonesia kaliber internasional.

Lewat forum sidang APEC di Bogor, tahun 1994, batik-batik karya Iwan Tirta dikenakan semua pemimpin dunia itu, antaralain Presiden AS Bill Clinton. Bahkan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, yang juga penerima Nobel Perdamaian dunia, terus kepincut dengan Batik Iwan Tirta dan menjadikannya sebagai busana nasionalnya di Afrika Selatan hingga kini.
Batik Indonesia kini sangat terkenal di Afrika Selatan. Apalagi Nelson Mandela sampai saat ini masih “rajin berpromosi” dengan selalu mengenakan batik Indonesia. Sayang, sebagian penduduk masih “salah terima” karena mengira hanya pemimpin negara yang berhak mengenakannya, sehingga sebagian rakyat masih sungkan mengenakannya.
Ketika Bill Gates, Boss Microsoft datang ke Indonesia untuk memberi kuliah umum di JCC Hall – Mei 2008 lalu, dan Rachmat Gobel, Boss Panasonik, menawarinya agar mengenakan busana batik, dan Bill Gates menyetujuinya, maka Iwan Tirta lah yang dihubunginya. Dan lagi-lagi busana Batik Iwan Tirta dipakai tokoh dunia.
Tokoh-tokoh dunia yang pernah menggunakan batik Indonesia :


Gambar 5: Nelson Mandela Presiden Afrika Selatan dan
Bill Gate mantan Boss Microsoft Corporation, Amerika.


Gambar 6: SBY dan Zinedine Zidane pemain bola dari Perancis.
Pemain kelompok sepak bola MU dalam promo operator GSM, Tri.

Gambar 7: SBY dan Ban Ki-moon (sekjen PBB).
Pak Harto dan Bill Clinton, mantan Presiden Amerika.
Gambar 8: “Ksatriyan” Ronald Reagen.
Terinspirasi oleh motif dekoratif batik “Ksatriyan” dari Kraton Yogyakarta dengan komposisi petak yang hanya digunakan oleh raja dan anggota keluarga kerajaan. Iwan Tirta memodifikasi motif ini dengan memasukkan gambar the American coat of arms yang dirancang khusus untuk dipakai oleh Presiden Ronald Reagan ketika berkunjung ke Indonesia di era Presiden Soeharto.


Batik merupakan salah satu peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai filosofis tinggi. Bagian-bagian motif batik memiliki nilai-nilai tersendiri, sehingga masing-masing motif memiliki fungsi dan pemanfaatan yang berbeda-beda pula. Menurut banyak sumber sejarah, batik pada mulanya berkembang di lingkungan keraton sekitar abad ke-15. Batik digunakan oleh keluarga keraton atau keluarga yang memiliki kedudukan sebagai busana yang menunjukkan identitas dan prestise si pemakai.
Umumnya batik digunakan sebagai pakaian bawahan (bagian bawah/jarit), penutup kepala, dan sebagainya. Pemakaian batik pun tidak sembarangan, seperti dijelaskan di atas. Masing-masing motif memiliki nilai-nilai filosofis tersendiri yang berusaha menggambarkan kehidupan di dunia ini. Bahkan dalam proses pengerjaan batik pun, terdapat nilai-nilai filosofis tersendiri. Fungsi tradisional tersebut diantaranya adalah penggunaan motif parang, khususnya Parang Rusak yang dianggap paling sakral di lingkungan keraton, karena memiliki nilai-nilai filosofis tertentu yang memiliki pengaruh tertentu kepada si pemakainya.
Seiring dengan perkembangan waktu, batik mulai berkembang dan penggunaanya tidak terbatas di lingkungan keraton. Namun, nilai-nilai filosofis batik masih tetap dipertahankan. Fleksibilitas masyarakat Indonesia terhadap pedagang-pedagang dari luar memungkinkan adanya pertukaran nilai dan budaya, termasuk di dalam nya batik. Terutama di daerah pesisir yang sering bersinggungan dengan pedang dari luar negeri, terutama dari Gujarat, Persia, India dan Cina. Hal ini memungkinkan terjadinya akulturasi antar bangsa yang berdagang.

Gambar 9: Dulu batik untuk pakaian kalangan keraton, sekarang banyak diaplikasi pada barang-barang keperluan  hidup sehari-hari, misalnya, sepatu, sandal, topeng, dll.

Hal ini ditandai dengan lebih beragamnya motif dan corak warna batik di daerah pesisir dibandingkan dengan daerah pedalaman. Misalnya corak warna merah yang banyak digunakan oleh masyarakat Cina yang kemudian diaplikasikan pada kain batik. Ataupun berkembangnya motif bunga lili pada motif batik pesisiran. Membuat batik dapat diterima tidak hanya oleh masyarakat Indonesia, sehingga eksistensinya dapat terjaga.
Di Indonesia perkembangan pemanfaatan kain batik banyak disebut dimulai setelah abad 19 terutama disebutkan karena terjadinya industrialisasi batik. Batik kemudian juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pakaian, kerajinan, sandal, dan penggunaan lainya.
Bahkan oleh pemerintahan presiden Soeharto batik dijadikan sebagai pakaian nasional, masyarakat pun disarankan untuk menggunakan batik sebagai salah satu pakaian resmi. Penghargaan ini hingga kini masih dijunjung tinggi, diantaranya dengan didirikannya berbagai museum batik dan banyak diselenggarakannya pameran batik, diresmikannya batik sebagai salah satu pakaian dinas pegawai (khususnya pegawai negeri), banyak berdirinya produsen kerajinan berbahan batik, banyak digunakannya pakaian batik dalam kehidupan sehari-hari, dan sebagainya.
Di sisi pariwisata, batik hingga saat ini menjadi salah satu objek daya tarik wisata, terutama di wilayah keraton yang menyediakan wisata batik. Ini menunjukkan apresiasi masyarakat internasional terhadap keberadaan batik.

Referensi :

Aep S. Hamidin, Batik Warisan Budaya Asli Indonesia, Penerbit: Narasi, Yogyakarta, 2010.
Ani Bambang Yudhoyono, Batikku Pengabdian Cinta tak Berkata, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010.
R.M. Ismundandar, Teknik dan Mutu Batik Tradisional-Mancanegara, Dahara Prize, Semarang, 1985.

http://solobatik.athost.net/sejarah.php